Tuesday, May 02, 2006

Repotnya seorang imigran

Keropotan dengan imigrasi adalah hal yang biasa terjadi pada kaum asing. Sebagai salah satu pelajar di Belanda, bertahun-tahun saya selalu mengalami rasa deg-degan apabila kartu ijin tinggal saya sudah mendekati batas akhir. Itu berarti perjalanan panjang akan saya tempuh lagi. Saya berandai-andai jika saya berada di Indonesia, rasanya semua begitu mudah. Ah, tapi dengar dulu pengalaman teman saya yang notabene seorang asing di negara Indonesia, ternyata kantor imigrasi negara manapun sama-sama merepotkan.

Jika awal tahun pelajaran sudah menjelang bagi saya yang seorang pelajar di negara Belanda adalah suatu kerepotan. Belum lagi biasanya liburan musim panas saya menghabiskannya di Indonesia, jadi semua urusan saya haruslah selesai sebelum bulan Juli. Pertama, saya harus mengurus tiket pulang ke Indonesia. Saya harus hati-hati memperhatikan hari pulang sebelum kartu ijin tinggal saya habis. Kedua, karena kartu ijin tinggal saya biasanya habis awal September, sebelum Juli saya harus menyelesaikan semua persyaratan IND yang termasuk menyelesaikan urusan sekolah, karena IND mensyaratkan selembar pernyataan yang menyatakan saya masih murid sekolah saya sebagai syarat perpanjangan kartu ijin tinggal. Belum lagi syarat uang yang harus saya punya sebagai jaminan saya tidak akan merepotkan negara Belanda. Wah, pokoknya repot dan mahal.

Belum lagi kalau kita terbentur masalah dengan mereka. Ada teman saya yang belum mendapatkan kartu ijin tinggal yang untuk tahun 2004/2005 sampai sekarang! Akhirnya untuk 2005/2006 dia memutuskan pulang ke Indonesia untuk kerja magang disini, jadinya dia tidak perlu memperpanjang kartu nya dan kerja tenang di Indonesia. Yah, setidaknya sampai dia harus mengurus lagi perpanjangan kartu 2006/2007.

Kembali ke Indonesia untuk kerja magang disini memberi saya beberapa pengalaman ‘khas Indonesia’ yang memang hanya dipunya oleh negara Indonesia. Apalagi kalau bukan urusan ‘sogok-menyogok’. Budaya ini ternyata juga sampai ke urusan keimigrasian para warga negara asing.

Teman saya adalah seorang Warga Negara Asing (WNA) yang kebetulan berdarah Belanda-Indonesia, dan fasih berbahasa Indonesia. Untuk persyaratan sekolahnya, dia diminta untuk kerja magang selama 5 bulan. Didorong kecintaanya pada tanah nenek moyangnya, dia memutuskan untuk melakukan kerja magang di Indonesia.

Karena itu dia diharuskan memiliki visa sosial budaya yang berlaku untuk 2 bulan di masa awalnya, dan bisa diperpanjang untuk sebulan selama 4 kali. Terdengar mudah, bukan? Kenyataanya tidaklah begitu.

Dia mendapatkan visa pertamanya di Singapore, di perjalanannya menuju Indonesia. KBRI Singapore mengatakan kalau dia bisa dengan mudah memperpanjang visanya di Indonesia. Tentu saja teman saya ini percaya. Di akhir masa visanya, dia mulai sibuk menghubungi kantor imigrasi di Kuningan untuk mendapatkan informasi tentang memperpanjang visanya. Di luar dugaan, jawaban dari kantor Imigrasi mengejutkan. Untuk perpanjangan visa, selain membayar uang yang jumlahnya cukup besar, dia tetap harus menyetor beberapa ratus ribu tiap bulan sampai akhir masa tinggalnya disini. Pokonya kalau dihitung-hitung lebih murah ongkos bila dia kembali memperpanjang visa dari Singapore. Edan!

Pantang menyerah dia mencoba untuk menghubungi kantor imigrasi pusat, setelah mengalami percakapan pendek dan berujung di soal harga, lagi-lagi jawaban mereka terdengar serupa dan sangat khas Indonesia “ Mbak biasanya bayar berapa?”
Tentu saja teman saya itu stress, dan mengutuki kenapa Indonesia tidak mempunyai daftar harga yang pasti? Begitu gampang mereka mempermainkan nasib warga negara asing.

Akhirnya setelah menghubungi kanan-kiri dan meminta bantuan tantenya yang tinggal di Jakarta, teman saya harus membayar Rp 200 ribu untuk setiap bulan perpanjangan dia. Ada satu masalah kecil, dia hanya mendapat perpanjangan 4 kali yang akan jatuh tempo akhir Juni, padahal dia harus kerja magang sampai bulan Juli. Lalu bagaimana? “Ah, kalau mereka bisa bermain kotor, kenapa aku tidak bisa bermain kotor?” katanya sinis.

Saya kira kantor Imigrasi Belanda sudah sangat merepotkan, ternyata di Indonesia tidak kalah buruknya. Memang, guru kencing berdiri murid kencing berlari.

3 comments:

dika said...

humm.., ada beberapa kesimpulan yg saya tarik dari posting bulan kali ini...

1. gaya bahasa bulan berubah,
2. bulan mulai mengetahui keadaan tanah air kami yg sebenarnya;
3. dika masih tetap cinta indonesia

*kabur.. :p

btw, saya suka heran kalo ketemu org asing yg begitu pengennya ke negara saya (just curiosity.., no offense :p)

Anonymous said...

kekekke.. tau seh tau dik.. tapi kok separah gitu yah.. padahal kan mestinya imigrasi ngasih kesan yg baik buat orang asing. Bukankan mereka itu kayak duta indonesia yah?

:D

bulan

kemal said...

nyritain sapa si bul, ato pengalaman pribadi???