Sunday, December 04, 2005

Gadis Gurun dan Sang Alkemis




Dear Mas Berly, (yups, postingan kali ini ditujukan ke kamu :P)

Akhirnya, setelah gagal membaca The Alchemist, Paulo Coelho versi bahasa inggris yang kamu pinjemin ke aku, kemaren pas pulang indo, aku beli versi bahasa Indonesianya. :D
Dan setelah beberapa kali menunda untuk membacanya, beberapa minggu yang lalu, aku berhasil membaca selesai bukunya.

Jujur ajah, aku ga terlalu suka ama self-help book dan sejenisnya. Karena aku rasa, self-help book tuh penuh dengan kata-kata penyemangat yang bullshit. Tapi, mungkin sifat manusia kali yah, begitu kamu berhasil selamat dalam pertempuran pribadimu, kamu akan segera ingin menyebarkan ke orang lain yang -menurutmu- bernasib sama dengan mu *anyway, hanya pendapat anehku, jangan didebat :D*

Balik lagi ke Sang Alkemis (bahasa indonesianya ajah ya, soalnya aku baca yang versi Indonesia seh, meskipun kadang aku bingung dengan terjemahannya, tapi tetep ajah basa Indonesia kan basa ibu kuh :D ), ada satu cerita yang menggelitik (ciee,.. basanya) hatiku, disitu buku ini bercerita tentang si bocah di dalam perjalanan mau menemukan legenda pribadinya, bertemu dengan Gadis-Gurun-Si-Penunggu. Sempet aku tercenung lama begitu menemukan bagian itu (dan tentu aja langsung teringat Ms D mu dan juga Ms D nya Cauf), bagian ini begitu familiar buat para student disini. Seperti kamu dengan Ms D mu dan para pelajar lain yang sedang menjalani LDR (long distance relationship).

Tapi yang buat aku gak begitu suka. Kenapa harus selalu wanita yang di identikkan dengan gadis gurun? Sepertinya kok semua wanita ditakdirkan untuk menunggu sang kekasihnya dan wanita yang harus bersabar sampai sang kekasihnya menjemput dia?. Kok gender banget seh? Karena menurutku semua orang pasti mempunyai Legenda Pribadi dan semua orang ingin Legenda Pribadi nya terwujub. Tidak peduli itu wanita ataupun pria.

Aku sendiri punya Legenda Pribadi, daripada menjadi Gadis Gurun Penunggu, ak lebih suka mewujubkan Legenda Pribadi ku. Pertanyaan yang aku mau tanyain ke Gadis Gurun itu adalah; "Hei gadis gurun, kamu punya legenda pribadi gak? masa kamu cuman bakal nunggu? masa kamu tidak mau mewujubkan legenda pribadi mu? :P ".

Dan lagian, kayaknya aku ga berbakat jadi Gadis Gurun.

Secara keseluruhan, aki -lumayan- suka buku ini, aku suka ide tentang " Ketika kamu menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bekerja sama denganmu dan alam semesta akan memberikan tanda-tandanya padamu" , mungkin sebagian orang bilang ini terlalu hiperbola, tapi sebagai self-help book, boleh donk buku ini bilang gituh :D.

Menurutku, semua orang bisa jadi bocah yang mencari legenda pribadinya dan semua orang bisa menemukan gadis gurun (dan pria gurun ) dalam pencariannya.

Anyway, aku pernah bilan ke seorang temen, "Mungkin manusia tuh pengen sang pasangan ada di sampingnya, tapi yang paling penting manusia ituh pengen pasangan yang dicintainya bisa mendapatkan mimpi-mimpinya". See? semua orang bisa menjadi Gadis Gurun :P .

Regards,
Bulan :)

8 comments:

Berly said...

Wah, terharu ada posting ditujukan buatku

Aku tidak coba membaca buku itu secara gender. But you have a point.

Terlalu banyak buku dan film dimana cewek hanya jadi yg menunggu atau diselamatkan. The princess syndrome as the psychologist called it.

Aku percaya tiap orang punya hak dan kemerdakaan untuk mewujudkan potensinya (indonesia lebih gender netral dibanding English).

Deep down inside, aren’t we all wondering in the desert of life to some reach destinatin. The journey will be much better if we encounter oase of friendship and love along the way.

Coba baca buku “Veronica Decide to Die” yg juga ditulis Paul Coelho. Disitu tokoh utamanya cewek (but you dont hear me complain on gender imbalance).

Right now my personal legend is to find a lost book I lent to a Desert Girl in Amsterdam :-p

bulan said...

Eh, itu berarti Desert Girl nya tanti bukan aku, la wong dipinjem ke tanti, :P

:)

jadi pengen baca veronica decide to die deh, baru nanti liat apakah ada celah untuk mencela :P

anyway.. ayoo balik ke belanda :D

iFa said...

hi bulan... out of topic niy..

foto di blogku itu ada scriptnya kok. kalo mau ntar aku kirimin. tp krm ke mana? :D

btw, bulan ini temennya dika bkn? :D

PrimataTantiana said...

Ha?Apa yg dipinjemin ke aku?Aku yg pinjem buku mas Berly tuh Short History of Indonesia dan Great Economics,the Tao of Politics.Aku ga pinjem the Alchemist.
Hmm im not like the one in the Alchemist.Adanya Adit yg nungguin aku heuheuehue...
Buku itu versi Indonesianya susah dimengerti,terjemahannya susah dipahami. Jiwa Dunia dkk...apa itu maksudnya?!?!

bulan said...

Tanti : Jiwa Buana tan.. bukan Jiwa Dunia :P
lalu a boy = bocah
personal legeng = legenda pribadi
Desert Girl = Gadis Gurun
huahahahaha...

Ifa: aku udah ngirim email ke kamu...diterima gak yah?

dika said...

bul.., kata2 "personal legend" tu gak ada di buku versi inggrisnya.., menurutku si itu maksudnya "life destiny" --> soalnya itu tok sing ada di buku :p

anyway.., pastes ae aku gak nemu posting ini.., lha aku nyarinya pake kata "The Alchemist" ^_^;;

humm, menurutku, selama jadi gadis gurun, kita juga bisa mengejar mimpi kita kok *makanya.., jangan mau nunggu di gurun yg gak ada tempat untuk mewujudkan impian kita.. =)

Kotan Koushino said...

salah satu buku kesukaan gue...
bukan buku "sang alkemis", tapi "the alchemist."
kadang-kadang terjemahan merusak segalanya, termasuk buku ini.
kalimat aslinya kutipan yang "Ketika kamu..." adalah "When you want something, all universe will conspire in helping you to achieve it."
Kata yang menurut gue hilang ada conspire yang harusnya sih diterjemahkan menjadi berkonspirasi. Jadi yang ada bukan kerjasama antara kita dengan alam semesta, tetapi seluruh alam semesta bekerja sama untuk mewujudkan impian kita.
Dan itu lebih mengena buat gue, karena artinya kita gak perlu takut kita gagal, lah wong seluruh alam semesta sudah berkonspirasi agar kita berhasil kok.

Anonymous said...

kalau berdasarkan pemahamanku, yang dimaksud dengan "gadis gurun" itu memang benar" seorang gadis yang tinggal di gurun dan mungkin juga sudah kebiasaan dari mereka kaum hawa di gurun yang selalu menunggu suami, ayah, maupun kakak mereka yang mencari nafkah mengarungi gurun.
But no offense . . . :D

dan Sebagian dari apa yang terjadi di dalam cerita tersebut jg sudah terjadi di kehidupanku. Seperti tanda-tanda, mengingatkan akan mimpiku yg sempat terlupakan kembali, peluang yg telah diberikan untuk lebih dekat dengan mimpiku, dll.

saya benar" suka dan termotifasi setelah baca cerita itu, mungkin cerita itu pun bagian dari "tanda" yang telah diberikan kepadaku.

PROFARF